Thursday, December 10, 2015

Film-Film yang bertemakan Batak

Film-Film yang bertemakan Batak


Alam Sumatera yang indah dan masyarakatnya yang ramah, banyak mengilhami para sineas dan novelis untuk membuat cerita novel/film yang bertemakan Sumatera. Apalagi para pemuda Sumatera, memiliki jiwa perantau yang tangguh, dan inilah yang menjadi banyak inspirasi bagi para penulis cerita untuk menceritakan ke-uletan dan ke-tangguhan para pemuda Sumatera ketika mereka merantau ke Ibu Kota, walaupun banyak yang sukses, namun tak banyak juga yang hidup pas-pasan dan malu untuk pulang.

Berikut ini adalah daftar Film-film Indonesia yang bertemakan Batak :


A Sing Sing So (1963)

A Sing Sing So adalah film Indonesia yang yang dirilis pada tahun 1963 dengan dibintangi antara lain oleh Nani Widjaja dan Zainal Abidin.

Seorang gadis Batak (Nani Widjaja) mempunya pacar yang buta (Zainal Abidin). Lalu datang gadis penolong dari kota (Ellya Rosa) yang ingin mengobati kebutaan pemuda tadi dan berhasil. Setelah lama tak ada kabar, sang gadis menyusul ke kota. Ternyata pemuda buta yang sudah melek tadi sudah pacaran dengan gadis penolongnya.

Bulan di Atas Kuburan (1973)

Bulan di Atas Kuburan adalah film Indonesia yang dirilis pada tahun 1973 yang disutradarai oleh Asrul Sani dan dibintangi oleh Muni Cader dan Rachmat Hidayat.

Sinopsis : Melihat Sabar (Aedy Moward) memamerkan suksesnya di kampung, maka dua Batak muda, Tigor (Muni Cader) dan Sahat (Rachmat Hidayat) datang ke Jakarta berbekal alamat Sabar. Impian dan harapan langsung musnah. Sabar tinggal di gang kampung kumuh yang mencarinya setengah mati, dan hanya seorang sopir oplet, dan kehidupan rumahtangganya dipenuhi cekcok dengan istrinya, karena Sabar sendiri penuh khayal. Maka Sahat dan Tigor berusaha hidup di Jakarta dengan caranya masing-masing. Tigor yang merasa akan melipat Jakarta, lalu menjadi penguasa sebuah kawasan parkir, mati dikeroyok tukang parkir dan cuci motor. Sahat yang bercita-cita jadi penulis besar, merelakan diri mengawini Mona, putri seorang penerbit buku untuk melancarkan jalannya. Sabar sendiri mati saat kendaraannya terguling. Semua tak menemukan bulan yang dicari. Boleh dikata ini film Asrul Sani yang terbaik, selain "Apa jang Kau Tjari Palupi". Aedy Moward juga bermain sangat gemilang.

Secangkir Kopi Pahit (1985)

Secangkir Kopi Pahit adalah film Indonesia yang dirilis pada tahun 1985 dengan disutradarai oleh Teguh Karya. Film ini dibintangi antara lain oleh Rina Hasyim dan Alex Komang. Judul awal Film ini yaitu merobek angan-angan.

Sinopsis : Togar, mahasiswa dari Sumatera Utara, sangat diharapkan orang tuanya menjadi sarjana ekonomi. Karena bakatnya di bidang jurnalistik, Togar kandas dan menjadi buruh kasar di sebuah pabrik semen. Atas bantuan Buyung, Togar mulai aktif menulis di surat kabar, lalu minta berhenti dari pabrik semen. Sewaktu bekerja di pabrik, Togar pernah bergaul dengan seorang janda beranak tiga, Lola. Dalam keadaan kehilangan pegangan, Togar pernah meniduri Lola.

Menjalankan tugas jurnalistiknya, Togar ingin meliput kisah Karsih, gadis yang terjebak ketika hendak mencari kerja ke Jakarta. Malang bagi Togar. Ia dituduh melarikan Karsih, sehingga ditahan. Dalam tahanan, muncul janda Lola yang sudah hamil oleh Togar. Dengan pasrah, Togar menerima Lola sebagai istri. Tetapi untuk pulang ke kampung, Togar tak berani dan malu. Perasaan itu ia hilangkan tatkala ia harus pulang karena ayahnya meninggal.

Kampungnya ternyata tak sekejam yang ia bayangkan. Lola dan anak-anaknya diterima dalam marga, sebagai keluarga yang sah. Kebahagiaan itu tak berlangsung lama. Kecelakaan terjadi akibat kelalaian Togar yang melarikan perahu motor terlalu kencang. Lola tak dapat berenang dan tenggelam di danau Toba. Togar lebih tertempa lagi hidupnya.

Naga Bonar (1987)

Naga Bonar adalah film komedi situasi tahun 1987 dari Indonesia yang mengambil latar peristiwa perang kemerdekaan Indonesia ketika sedang melawan kedatangan pasukan Kerajaan Belanda paska kemerdekaan Indonesia di daerah Sumatera Utara.

Sinopsis : Naga Bonar (Deddy Mizwar) adalah seorang pencopet di Medan yang sering keluar-masuk penjara Jepang, ia bersahabat dengan seorang pemuda bernama Bujang. Sepulang dari penjara, Bang Pohan (Piet Pagau) mengatakan tentang proklamasi kemerdekaan Indonesia yang sudah diproklamasikan di Jakarta, dan di Medan yang belum sempat dimerdekakan harus memperangi Belanda yang sudah memasuki wilayah Indonesia dengan maksud untuk berkuasa lagi. Lewat narator radio, diceritakan penolong Naga Bonar ketika sakit, Dokter Zulbi yang merupakan teman Bang Pohan diperkirakan sebagai mata-mata Belanda yang ternyata itu hanya isu. Naga Bonarpun menjadi tentara garis depan dalam perlawanan terhadap Belanda. Setelah beberapa perlawanan yang sengit, Naga Bonar dititahkan dari markas untuk mundur karena perundingan dengan Belanda mau dilaksanakan.

Perpindahan pasukan dari desa ke markas menjadi saat Naga Bonar mulai tertarik dengan anak Dokter Zulbi, Kirana (Nurul Arifin). Pada perundingan Belanda dengan Indonesia, Naga Bonar yang menjadi wakil Indonesia justru menunjuk Parit Buntar sebagai tempat wilayah tentaranya (karena Naga Bonar tidak bisa membaca peta). Juru tulis pasukan, Lukman, mengatakan bahwa Parit Buntar adalah tempat yang sudah diduduki oleh Belanda. Setelah itu, Naga Bonar mulai mendekati Kirana dengan hasil yang memuaskan. Sehari setelah itu, Bujang mengambil baju jenderal Naga Bonar dan pergi ke Parit Buntar untuk melawan Belanda, naas, ia tewas. Akhirnya bersama dengan Kirana, dan pasukannya pergi ke Parit Buntar untuk memusnahkan markas Belanda dan berhasil. Film diakhiri dengan orasi Naga Bonar dan Kirana kepada pemuda indonesia.

Slogan "Apa kata Dunia" dan "Matilah Kau dimakan Cacing lah kau" pada Film ini hingga pada saat ini masih sering digunakan

Naga Bonar Jadi 2 (2007)

Nagabonar Jadi 2 adalah sebuah film Indonesia tahun 2007 yang merupakan sekuel dari film Naga Bonar (1987). Film ini meraih penghargaan sebagai Film Terbaik dalam Festival Film Indonesia 2007 dan "Movie of the Year"[1] dari Guardians e-Awards

Sinopsis : Sekuel dari film Naga Bonar (1987), berputar tentang hubungan Naga Bonar (Deddy Mizwar) dan putranya, Bonaga (Tora Sudiro) dalam suasana kehidupan anak muda metropolis. Untuk memulai bisnis, Bonaga berniat menjual tanah milik ayahnya yang disana terletak kuburan keluarga Naga Bonar. Akhirnya timbul konflik perbedaan nilai diantara mereka.

Film Rokkap (Rongkap) (2010)
Hasil gambar untuk rokkap film

Film Rokkap (Rongkap) yang berarti Jodoh/pasangan Hidup merupakan salah satu Film Bertemakan Batak yang telah tayang Di Layar Lebar. Film ini resmi dirilis di Bioskop pada tanggal 21 Oktober 2010. Film Rokkap dibintangi oleh Kinaryosih dan Alex Abbad. tak ketinggalan dibintangi juga oleh beberapa orang batak seperti Musisi Tongam Sirait yang sekaligus menciptakan Ost dari Film Ini.

Film Rokkap mengambil gambar keindahan Danau Toba dan beberapa tempat lain di sekitar pulau samosir.Film Produksi Promised Land Pictures ini disutradarai oleh 3 sutradara yaitu Bm Joe, Ginanti Rona Tembang Sari, dan Hendra ‘pay” 

Sinopsis : Film Rokkap bercerita tentang kisah seorang perempuan batak Tunaetra bernama Lingga (Kinaryosih) dengan Seorang Fotografer bernama Bow (Alex Abbad.) Liggga dengan segala keterbatasanya memiliki kelebihan dengan kepiawaiannya menghasilkan lukisan yang menarik perhatian. 

Dari hasil lukisannya ia bisa membantu perekonomian keluarganya yang hanya tinggal dengan sang ayah dan kakak yang selalu menyayangi dirinya. Dari lukisannya pula ia akhirnya menemukan seorang kekasih yang selama ini ia tunggu-tunggu.

Adalah Bow (Alex Abbad), seorang fotografer yang akhirnya menjadikan Lingga sebagai kekasih. Semuanya berawal ketika ia diminta memoto prewedding untuk sahabatnya yang dilakukan di Danau Toba. Setiba di tanah Batak itu, Bow melihat sebuah lukisan yang menarik perhatiannya di sebuah hotel tempat ia menginap. Rasa penasaran dengan sosok sang pelukis pun menyelimuti Bow. Sampai akhirnya ia bertemu dengan Lingga, si gadis pelukis tersebut.

Namun kisah percintaan mereka tidak semulus yang diperkirakan. Ayah Lingga enggan menerima Bow sebagai kekasih anaknya. Sedangkan Bow sendiri masih memiliki hubungan dengan kekasihnya yang tinggal di Bali. 

Film ini menyuguhkan aroma kental suku Batak. Mulai dari bahasa yang dipakai (bahkan sampai ditranslate ke bahasa Indonesia), adat penikahan, alat musik, bahkan untuk melengkapi semuanya itu Anda akan dimanjakan dengan keindahan panorama Danau Toba.

Demi Ucok (2013)

Sinopsis : Glo (Geraldine Sianturi)) hidup dalam keluarga batak. Glo tidak mau jadi seperti ibunya, yaitu menikah, lupa mimpi, dan hidup dengan rutinitas setelahnya. Glo ingin mengejar mimpi, yaitu membuat film. Sementara Mak Gondut (ibu Glo / Dr/ Lina KM) yang dalam keadaan sakit dan divonis hidup tinggal setahun lagi tetap bertekad mencari pasangan untuk Glo agar kemudian menikah dan hidup bahagia setelahnya.

Serba-Serbi
- Awalnya Poster Film Demi Ucok dinyatakan tidak lulus sensor karena menampilkan gambar kaki di atas kepala.
- Bobotoh (Pendukung Persib) merasa tersinggung karena hewan peliharaan mak Gondut (seekor anjing ) yang mengenakan jersey kebanggaan Persib. Menurut Bobotoh hal ini merupakan bentuk pelecehan

Film Mursala (2013)

Mursala adalah film drama Indonesia tahun 2013 yang bernuansa budaya Batak. Film ini disutradarai oleh Viva Westi dan dibintangi oleh Rio Dewanto dan Titi Sjuman. Film ini mengangkat cerita budaya Batak tentang 70 marga yang berbeda dan tidak boleh menikah hingga kini, seperti marga Simbolon dan Saragih. Film bernuansa romantis ini juga menampilkan keindahan panorama Tapanuli Tengah, Sumatera Utara.

Sinopsis : Kisah Mursala diawali dengan tekad seorang pemuda Batak bernama Anggiat (Rio Dewanto) yang merantau ke Jakarta dari kampungnya di Sorkam, Tapanuli Tengah. Akhirnya dia sukses menjadi pengacara dan dibanggakan orangtuanya, namun itu belum sempurna karena ibunya, Inang Romauli dan ayahnya, Amung Hotman mengharapkan Anggiat menikah dengan pariban-nya (saudara sepupu). Hal itu tidak mudah, karena di Jakarta Anggiat telah memilih wanita berdarah batak yang dicintainya yakni Clarita (Anna Sinaga), seorang presenter televisi.

Persoalan muncul karena perbedaan marga Anggiat dan Clarita, yaitu "Simbolon" dan "Saragih" yang ternyata masuk ke dalam larangan adat yang tidak memungkinkan keduanya untuk menikah kecuali keluar dari adat marganya masing-masing. Meskipun begitu, Anggiat bertekad untuk mempertahankan hubungan cinta mereka.

Di tengah kebimbangan cintanya, Anggiat pulang ke kampung halamannya dan bertemu kembali dengan Tiur (Titi Sjuman), pariban-nya yang ternyata adalah teman masa kecilnya dahulu di Pulau Mursala. Tiur sendiri gadis yang diceritakan sebagai pecinta alam biota laut yang beberapa kali gagal menjalin cinta. Sebagai pariban Anggiat, Tiur merasa ragu bila Anggiat akan menerimanya sebagai calon istrinya, karena ia tidak ingin dijadikan pelarian atau sekedar alat untuk membahagiakan kedua orang tuanya.

Toba Dreams
TOBADREAMSFILM.JPG

Toba Dreams adalah sebuah Film Indonesia yang diadaptasi dari novel dengan judul yang sama karangan T.B. Silalahi.

Film ini berlatar belakang tentang kisah cinta yang terlalu mencintai.Cinta yang kadang tersesat dalam menemukan kebenaran. Seperti sersan Tebe yang mendidik anak-anaknya layaknya pasukan tempur karena cintanya yang luar biasa kepada mereka. Maka ketika Ronggur, anak sulungnya menjadi pemberontak dalam keluarga, terjadilah konflik mendalam antara ayah dan anak. Ronggur yang sesungguhnya mewarisi tabiat keras ayahnya menemukan cinta dalam diri Andini, seorang wanita ningrat yg berbeda agama.

Sinopsis : Film ini adalah tentang mimpi sersan Tebe yang ingin hidup dengan tenang dan damai mengandalkan uang pensiunan tentara dan memilih pulang untuk membangun kampung halamannya. Tapi Ronggur menolak, ia ingin membuktikan bahwa selama ini ayahnya salah memilih jalan hidup. Dengan penuh siasat Ronggur menjelma menjadi pentolan mafia narkoba dan merebut Andini dari orangtuanya yang tak merestui hubungan mereka.

Apakah pada akhirnya setiap anak manusia sanggup menggapai mimpi dan merenangi takdirnya dengan bahagia? Di antara gemerlapnya jakarta dan ketenangan Danau Toba. Sersan tebe, ronggur dan andini merajut drama perjalanan mereka. Di danau Toba jualah Mimpi dan Cinta mereka bermula.

Bulan Diatas Kuburan (2015)
Bulan di Atas Kuburan, Persembahan untuk Tanah Batak

Film remake tahun 1973, 'Bulan Di Atas Kuburan' bukan sekedar film drama biasa yang mengangkat kisah urbanisasi. Tapi juga menjadi kado spesial bagi suku Batak dari Sumatera Utara.

Sinopsis : 'Bulan di Atas Kuburan' adalah film yang terinspirasi dari puisi 'Malam Lebaran' karya Sitor Situmorang. Mengangkat tiga sahabat asal Samosir, Sumatera Utara, Sahat (Rio Dewanto), Tigor (Donny Alamsyah) dan Sabar (Tio Pakusadewo) yang mengejar mimpi ke ibukota, Jakarta. Tapi ternyata, Jakarta tidak memberikan apa yang mereka impikan dahulu.

Berbagai konflik mulai terlihat ketika mereka tiba di Jakarta. Tiga sahabat itu mengalami cobaan masing-masing. Sahat dengan mertuanya, Tigor dengan lingkungan premannya, serta Sabar yang menjadi korban oknum pemerintahan.


Nah sekian dulu, pembahasan kita mengenai film-film yang bertemakan Batak, semoga menambah kecintaan kita akan tanah Sumatera, khususnya tanah nenek moyang kita dan juga perfilman Indonesia. Maju Terus Perfilman Indonesia ..

0 comments:

Post a Comment

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Press Release Distribution